Rencana Go-Glam untuk Mengembangkan Bisnis Ke 14 Kota

39 views

Sesudah satu tahun berdiri, Go-Glam jadi lini usaha Go-Jek di bagian pola hidup bersiap untuk ekspansi di th. depan. Targetnya, dalam dua hingga lima th. ke depan, Go-Glam dapat meningkatkan ekosistem industri kecantikan di tanah air.

Rencana Go-Glam untuk Mengembangkan Bisnis Ke 14 Kota

Windy Natriavi, Co-Founder Go-Glam sekalian VP of Growth GO-JEK, menyebutkan, beberapa hal yang dapat dikerjakan di industri kecantikan. " Dalam satu tahun ini kita juga cukup terperanjat, awalannya cuma ada 50 orang stylish serta beautician gabung serta setengahnya saja yang aktif. Sekarang ini telah ada sekitaran 400 orang serta per minggu yang aktif sejumlah 200 orang, " kata Windy

Umumnya tenaga stylish serta beautician yang gabung adalah tenaga dari salon-salon kelas menengah bawah. Walaupun demikian, mereka dididik serta dilatih dengan profesional supaya dapat melayani sesuai sama standard pelanggannya, yang sekarang ini umumnya dari kelas menengah atas.

" Kami miliki tenaga pelatih internal sejumlah dua orang serta merajut kerja sama juga dengan sebagian beauty industry untuk melatih stylish serta beautician kami, " tutur WIndy.

Jadwal kursus juga sesuai dengan keperluan beberapa stylish Go-Glam. Terkecuali kekuatan salon serta kecantikan, Go-Glam juga sediakan kursus bhs Inggris untuk beberapa stylish serta beautician. Karna pemakai Go-Glam ada dari kelompok ekspatriat, beberapa tenaga Go-Glam butuh kekuatan penambahan untuk komunikasi dengan beberapa client.

Terkecuali kursus ketrampilan supaya sesuai sama standard salon kenamaan, Go-Glam juga mengklaim bekerja sama juga dengan trainer di salon terkenal untuk mengidentifikasi trend yang tengah berjalan supaya beberapa stylish serta beautician Go-Glam tetaplah up to date.

Diluar itu, Go-Glam juga menggandeng beauty blogger untuk sesuaikan standard service Go-Glam dengan salon-salon sebagai referensi mereka. " Di Go-Glam ada divisi training yang mengumpulkan semua info serta data berkaitan dunia kecantikan serta membuatnya jadi kurikulum, " tutur Windy.

Gagasan ekspansi

Sekarang ini Go-Glam miliki 10 service dari mulai kepala sampai kaki, ke depan service ini selalu ditambah. Diluar itu, Go-Glam juga merencanakan merajut hubungan kerja dengan salon-salon dengan sediakan basis on-line booking lewat aplikasi Go-Glam.

Sekarang ini Go-Glam telah ada di lima kota besar, serta gagasannya menginginkan ada di 14 kota seperti service Go-Ride. Targetnya, dalam lima th. ke depan, Go-Glam menginginkan menggandeng 10. 000 stylish serta beautician.

Bekraf rancang Kitab Suci pengembang bisnis e-commerce

Indonesia selalu berusaha jadi pemeran paling utama dalam usaha e-commerce. Projectsi potensi e-commerce di Indonesia yang menjangkau 130 miliar dolar AS pada th. 2020, jadi pemacu untuk aktor industri kreatif digital tanah air untuk selekasnya mempersiapkan langkah besar.

Berkaca pada kesempatan itu, Tubuh Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengadakan Bekraf Developer Conference (BDC) 2017.

Beberapa ratus peserta yang terbagi dalam akademisi, developer aplikasi, developer games, asosiasi, komune, industri serta pemerintah didatangkan.

Maksudnya, buat 'kitab suci’ atau tips untuk beberapa pemangku kebutuhan ekonomi kreatif digital dalam meningkatkan produknya supaya dapat bertahan dalam hadapi derasnya persaingan perebutan industri digital global.

Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santosa Sungkari mengatakan, potensi pengembangan e-commerce di Indonesia begitu besar. Tetapi sayang, sekarang ini Indonesia masih tetap berstatus jadi pasar.

" Misalnya didunia game, Indonesia itu jadi pasar game dunia. Data 2016, kita miliki 42 juta gamers. Tapi kita belum juga jadi produsen, produksi game kita masih tetap kecil, " tutur Hari.

Produksi aplikasi juga sampai sekarang ini belum juga memberikan perubahan penting. Walau sebenarnya, pemerintah sudah merumuskan bikin biru dimana usaha digital juga akan jadi tulang punggung ekonomi nasional pada 2025.

" Problem kita bukanlah masalah kreatifitas. Tapi keberlanjutan pengembangan aplikasi yang senantiasa jadi masalah. Kita sangat konsentrasi buat untuk di jual, tanpa ada menelisik lebih detil masalah peranan aplikasi untuk mengurai problem lokal. Karna orang-orang pada intinya menginginkan keringanan. Bila orang-orang tidak tahu fungsinya, mereka tidak juga akan gunakan, " ucapnya.

" Jadi masalah paling utama kita sekarang ini 50 % kemampuan, 30 % modal, serta bekasnya regulasi, " lebih Hari.

Karenanya, lanjut Hari, kinferensi ini dikerjakan untuk mempersiapkan roadmap yang terarah untuk membuat kemampuan developer lokal yang berkelanjutan dalam pengembangan aplikasi serta permainan digital yang berkwalitas serta go international.

" Pertukaran info serta jejaring yang terjadi di konferensi ini diinginkan bisa buat beberapa aktor bisa bergerak dengan serta hasilkan kerjasama yang berkelanjutan serta beresiko positif pada perkembangan ekonomi nasional, " katanya.

Disamping itu, CEO Dicoding Indonesia, Narenda Wicaksono menilainya, besarnya potensi pasar aplikasi serta game di Indonesia telah jadi rahasia umum, tetapi jumlah developer lokal yang menikmatinya masih tetap begitu kecil.

Menurutnya, jadi besar jumlah developer lokal ini jadi menjadi satu diantara misi dengan ke depan untuk pengembangan ekonomi kreatif digital.

Ketekunan dalam meningkatkan Aplikasi, Games, ataupun Intellectual Properti yang sampai kini jadi modal beberapa developer, mesti didukung dengan kerjasama dengan semua stakeholder berkaitan.

" Umpamanya Akademisi, Industri, Komune, Pemerintah, ataupun Media, " tuturnya.